Bagaimana penyesuaian dosis obat antidiabetes oral dan insulin selama bulan Ramadhan?
Sarana belajar seputar kesehatan secara umum, dengan fokus utama bidang farmasi klinis. Setiap informasi disajikan secara runut, disertai dengan tutorial, contoh kasus, link perhitungan cepat dan literatur untuk memudahkan sejawat menelusurinya ke sumber utama. Selamat membaca. Salam farmasi klinis!
Penyakit Coronavirus (Covid-19) ditandai dengan berbagai manifestasi klinis, seperti batuk, demam, nyeri otot, gangguan gastrointestinal dan anosmia (kehilangan penciuman). Diagnosis Covid-19 ditegakkan dengan mendeteksi RNA SARS-CoV-2 melalui pemeriksaan PCR swab nasofaring ataupun spesimen lain, seperti air liur. Tes antigen secara umum kurang sensitif dibandingkan dengan tes PCR, tetapi lebih murah dan mudah diterapkan di berbagai fasilitas kesehatan dengan hasil yang cepat.
Kebanyakan kasus Covid-19 tidak
menunjukkan gejala, namun dari sebagian besar pasien mengalami gangguan
pernafasan mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit dan mengalami infeksi
yang kemudian berkembang menjadi penyakit kritis disertai gagal nafas
hipoksemik dan membutuhkan bantuan ventilator jangka panjang.
Gambaran patofisiologis Covid-19
berat didominasi oleh pneumonia akut dengan opasitas radiologi yang luas,
kerusakan alveolar difus, inflamasi infiltrat dan trombosis mikrovaskuler. Pasien
Covid-19 berat dapat mengalami inflamasi, yang ditandai dengan peningkatan
kadar marker inflamasi seperti protein C-reaktif (CRP), ferritin, interleukin-1 dan
interleukin-6. Glukokortikoid berperan pada kondisi ini. Ada
beberapa pendapat tentang penggunaan glukokortikoid pada kasus Covid-19 berat pada
6 bulan pertama pandemik di seluruh dunia. Sebagian menyarankan, sebagian lagi
tidak. Di Cina sendiri, penggunaan glukokortikoid direkomendasikan pada kasus Covid-19
yang berat.
Evaluasi dan penatalaksanaan
Covid-19 disesuaikan dengan derajat keparahan penyakit, seperti yang dirangkum
pada gambar dibawah ini.
Karakteristik,
diagnosis dan tatalaksana Covid-19 berdasarkan tingkat keparahan penyakit
(Sumber:
Gandhi RT et al. N Engl J Med 2020;383:1757-1766)
Glukokortikoid dapat memodulasi
cedera paru yang disebabkan oleh inflamasi, sehingga mengurangi resiko
terjadinya gagal nafas, hingga kematian. Manfaat ini terlihat jelas pada pasien
yang dirawat >7 hari setelah onset gejala, yaitu ketika kerusakan paru
akibat inflamasi berkembang. Glukokortikoid juga banyak digunakan pada sindrom
yang mirip-mirip dengan Covid-19, seperti SARS, MERS, influenza berat dan
pneumonia CAP.
Sebuah penelitian terbaru yang dilaksanakan
dalam kurun waktu mulai dari 19 maret 2020 hingga 8 juni 2020, melibatkan
11.303 pasien rawat inap yang menerima terapi glukokortikoid (deksametason 6 mg
sekali sehari hingga 10 hari) melaporkan hasil signifikan dalam hal:
Mortalitas
dalam 28 hari berdasarkan penggunaan ventilator
(sumber: Horby P, et al. N Engl J Med 2021)
Efek menguntungkan penggunaan
glukokortikoid pada infeksi pernafasan berat yang disebabkan oleh virus tergantung
pada ketepatan pemilihan dosis dan indikasi. Berbeda dengan SARS, dimana virus
bereplikasi mencapai puncaknya pada minggu kedua penyakit, replikasi virus pada
Covid-19 lebih tinggi diawal onset penyakit dan menurun setelahnya. Penurunan
mortalitas di minggu pertama onset penyakit pada kelompok deksametason
menunjukkan bahwa tahap tersebut didominasi oleh unsur-unsur imunopatologis
dengan replika virus yang aktif. Sedangkan efek samping serius yang dilaporkan
terkait penggunaan deksametason pada Covid-19 berat pada peneliain ini adalah
hiperglikemia, perdarahan gastrointestinal dan gangguan psikosis.
Dari paparan diatas dapat
disimpulkan bahwa penggunaan deksametason pada Covid-19 berat terbukti efektif
menurunkan mortalitas pada pasien yang menggunakan ventilator atau oksigen
saja, namun tidak demikian pada individu tanpa bantuan ventilator.
Sumber:
Comments
Post a Comment