Bagaimana penyesuaian dosis obat antidiabetes oral dan insulin selama bulan Ramadhan?
Sarana belajar seputar kesehatan secara umum, dengan fokus utama bidang farmasi klinis. Setiap informasi disajikan secara runut, disertai dengan tutorial, contoh kasus, link perhitungan cepat dan literatur untuk memudahkan sejawat menelusurinya ke sumber utama. Selamat membaca. Salam farmasi klinis!
Penyalahgunaan
obat merupakan pola maladaptif penggunaan zat yang menyebabkan efek merugikan berulang
akibat penggunaan zat yang juga berulang Salah satu obat yang rentan disalahgunakan
adalah opioid. Efek samping/merugikan dapat terjadi setelah satu atau beberapa
kali penggunaan. Gejala keracunan (overdosis) opioid bisa berupa onset akut, yang
terjadi beberapa jam hingga beberapa hari setelah obat dihentikan. Gejala yang
dapat diamati antara lain: gejala putus obat (sakaw) seperti merinding,
insomnia, nyeri otot dan menguap. Saat mengalami gejala putus obat, pasien bisa
merasakan euphoria, disforia, apatis, sedasi atau disorientasi. Sedangkan tanda-tanda,
bisa berupa demam, lakrimasi, diaphoresis atau diare (yang bisa terjadi selama
gejala putus obat). Selain itu, pasien bisa mengalami retardasi motorik, bicara
cadel dan miosis. Tes penunjang diagnostik yang bisa dijadikan acuan yaitu
analisa gas darah, oksimetri dan tes fungsi paru untuk mengidentifikasi adanya
depresi pernafasan.
Penanganan
utama kasus keracunan/overdosis adalah terapi suportif, dengan cara
mempertahankan fungsi vital sambil menunggu obat dieliminasi dari dalam tubuh. Nalokson
dapat digunakan untuk mengatasi efek opioid. Dosis lazim nalokson dalam kasus
keracunan akut adalah sebesar 0,4 hingga 2 mg secara intravena, diberikan
setiap 3 menit bila perlu. Pada beberapa kondisi, infus nalokson dapat
diberikan dengan mempertimbangkan waktu paruh racun (opioid) yang lebih lama
daripada nalokson.
Sumber:
Comments
Post a Comment