Bagaimana penyesuaian dosis obat antidiabetes oral dan insulin selama bulan Ramadhan?
Sarana belajar seputar kesehatan secara umum, dengan fokus utama bidang farmasi klinis. Setiap informasi disajikan secara runut, disertai dengan tutorial, contoh kasus, link perhitungan cepat dan literatur untuk memudahkan sejawat menelusurinya ke sumber utama. Selamat membaca. Salam farmasi klinis!
Studi kasus:
Seorang wanita paruh baya berusia 45 tahun masuk IGD diantar oleh
suaminya, setelah melakukan percobaan bunuh diri. Kondisi pasien bingung,
lemas, dan mengalami disorientasi. RR 8 rpm, tekanan darah 120/80 mmHg. Tindakan
apa yang saya pilih?
a.
Oksigen
b.
NaCl bolus
c.
Nalokson, tiamin, dekstrosa
d.
Intubasi endotrakea
e.
Pengosongan lambung
f.
Skrining toksikologi urine
Jawaban:
C.
Tindakan utama pada pasien yang mengalami perubahan mental
akut tanpa penyebab yang jelas yang disarankan adalah pemberian antidot,
seperti nalokson, dekstrosa dan tiamin. Terapi oksigen tidak memberikan
pertolongan berarti. Pengosongan lambung tidak seefektif antidot spesifik dan
hanya bisa diberikan bila overdosis terjadi dalam durasi kurang dari 1 jam
setelah racun tertelan. Bila pasien memperlihatkan perubahan status mental, hipoglikemik merupakan sebab utama,
seperti yang terjadi pada overdosis opiat. Pada kasus ini, tindakan yang tepat
adalah memberikan nalokson, tiamin dan dekstrosa, terapi oksigen dan NaCl
sambil melakukan pemeriksaan toksikologi secara bersamaan.
Pendekatan umum pada pasien keracunan
Kapan saya bisa
menyarankan “pengosongan lambung”?
Respon seperti ini nyaris selalu salah. Pengosongan lambung
tidak berguna bila racun penyebab
(zat asam atau basa) sudah tertelan, karena tindakan ini hanya akan efektif di
satu jam pertama overdosis.
Pertimbangannya:
1 jam = 50% racun dikeluarkan
1-2 jam = 15% racun dikeluarkan
2 jam = tidak berguna sama sekali
Begitu juga dengan ipecac (rimpang kering dan akar Carapichea ipecacuanha). Obat ini tidak efektif pada pasien yang mengalami
perubahan status mental, karena pasien akan memuntahkannya. Terutama pasien
anak.
Intubasi dan bilas lambung jarang dapat dilakukan jika pasien telah menelan racun dalam 1-2
jam terakhir dan tidak responsif dengan nalokson, dekstrosa dan tiamin.
Kapan saya bisa
menyarankan “nalokson, tiamin dan dekstrosa”?
Pemberian ketiga obat ini hanya efektif pada pasien yang
mengalami perubahan status mental tanpa sebab yang jelas.
Kapan saya bisa
menyarankan “karbon aktif”?
Karbon aktif aman bagi semua orang. Jadi, boleh
diberikan. Dosis yang disarankan adalah 50 g (dewasa) dan 25 g (anak). Pemberian
karbon aktif sangat membantu banyak kasus overdosis. Jika anda berhadapan
dengan kasus keracunan tanpa mengetahui penyebabnya, maka pemberian karbon
aktif merupakan pilihan yang tepat. Contoh: norit.
Berikan karbon aktif disertai dengan antiemetik. Perhatikan
gejala perforasi usus, obstruksi, aspirasi, ion asam/basa
Tips:
Pada kasus keracunan, lakukan beberapa tindakan secara serentak. Jika tidak ada pilihan terapi lain pada pasien yang mengalami perubahan status mental dengan dugaan overdosis, maka berikan nalokson, tiamin dan dekstrosa bersamaan dengan pemeriksaan skrining toksikologi, pemberian oksigen, dan pemeriksaan laboratorium rutin.
Berikut adalah ringkasan tahapan penanganan kasus overdosis:
Sumber:
Comments
Post a Comment