Bagaimana penyesuaian dosis obat antidiabetes oral dan insulin selama bulan Ramadhan?

Image
Bulan ini umat muslim di seluruh dunia menjalani ibadah puasa ramadhan, termasuk para penderita diabetes. Perubahan pola dan jadwal makan serta aktivitas fisik selama berpuasa akan mempengaruhi kadar gula darah, terutama resiko hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, dehidrasi dan thrombosis. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh pasien diabetes sebelum berpuasa di bulan Ramadhan: Melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh 1-2 bulan sebelum ramadhan Melakukan pemantauan kadar gula darah secara teratur, terutama di siang hari dan menjelang berbuka puasa Tidak berpuasa bila merasa tubuh kurang sehat Berkonsultasi dengan Dokter atau Apoteker terkait penyesuaian jadwal minum obat antidiabetes oral atau insulin  Tidak melewatkan waktu makan, menghindari minuman dan makanan manis berlebihan Menghindari aktivitas fisik yang berlebihan terutama beberapa saat menjelang waktu berbuka puasa Menghentikan puasa bila kadar gula darah kurang dari 80 mg/dl atau lebih dari 300 mg/dl ...

Tatalaksana umum pada pasien overdosis

Studi kasus:

Seorang wanita paruh baya berusia 45 tahun masuk IGD diantar oleh suaminya, setelah melakukan percobaan bunuh diri. Kondisi pasien bingung, lemas, dan mengalami disorientasi. RR 8 rpm, tekanan darah 120/80 mmHg. Tindakan apa yang saya pilih?

a.       Oksigen

b.      NaCl bolus

c.       Nalokson, tiamin, dekstrosa

d.      Intubasi endotrakea

e.      Pengosongan lambung

f.        Skrining toksikologi urine

Jawaban: C.

Tindakan utama pada pasien yang mengalami perubahan mental akut tanpa penyebab yang jelas yang disarankan adalah pemberian antidot, seperti nalokson, dekstrosa dan tiamin. Terapi oksigen tidak memberikan pertolongan berarti. Pengosongan lambung tidak seefektif antidot spesifik dan hanya bisa diberikan bila overdosis terjadi dalam durasi kurang dari 1 jam setelah racun tertelan. Bila pasien memperlihatkan perubahan status mental, hipoglikemik merupakan sebab utama, seperti yang terjadi pada overdosis opiat. Pada kasus ini, tindakan yang tepat adalah memberikan nalokson, tiamin dan dekstrosa, terapi oksigen dan NaCl sambil melakukan pemeriksaan toksikologi secara bersamaan.

 

Pendekatan umum pada pasien keracunan

  1. Amankan jalan nafas, resusitasi/stabilisasi
  2. Dekontaminasi (saluran gastrointestinal, kulit, mata)/tingkatkan eliminasi (dengan karbon aktif, dialysis)
  3. Berikan antidot bila diindikasikan
  4. Pertimbangkan pemberian terapi empiris nalokson, tiamin, dekstrosa bila pasien mengalami perubahan status mental, stenosis mitral. (Berikan flumazenil dengan monitoring cermat bila pasien mengalami kejang)

  

Kapan saya bisa menyarankan “pengosongan lambung”?

Respon seperti ini nyaris selalu salah. Pengosongan lambung tidak berguna bila racun penyebab (zat asam atau basa) sudah tertelan, karena tindakan ini hanya akan efektif di satu jam pertama overdosis.

Pertimbangannya:

1 jam = 50% racun dikeluarkan

1-2 jam = 15% racun dikeluarkan

2 jam = tidak berguna sama sekali

 

Begitu juga dengan ipecac (rimpang kering dan akar Carapichea ipecacuanha). Obat ini tidak efektif pada pasien yang mengalami perubahan status mental, karena pasien akan memuntahkannya. Terutama pasien anak.

Intubasi dan bilas lambung jarang dapat dilakukan jika pasien telah menelan racun dalam 1-2 jam terakhir dan tidak responsif dengan nalokson, dekstrosa dan tiamin.

 

Kapan saya bisa menyarankan “nalokson, tiamin dan dekstrosa”?

Pemberian ketiga obat ini hanya efektif pada pasien yang mengalami perubahan status mental tanpa sebab yang jelas.

 

Kapan saya bisa menyarankan “karbon aktif”?

Karbon aktif aman bagi semua orang. Jadi, boleh diberikan. Dosis yang disarankan adalah 50 g (dewasa) dan 25 g (anak). Pemberian karbon aktif sangat membantu banyak kasus overdosis. Jika anda berhadapan dengan kasus keracunan tanpa mengetahui penyebabnya, maka pemberian karbon aktif merupakan pilihan yang tepat. Contoh: norit.

Berikan karbon aktif disertai dengan antiemetik. Perhatikan gejala perforasi usus, obstruksi, aspirasi, ion asam/basa

 

Tips:

Pada kasus keracunan, lakukan beberapa tindakan secara serentak. Jika tidak ada pilihan terapi lain pada pasien yang mengalami perubahan status mental dengan dugaan overdosis, maka berikan nalokson, tiamin dan dekstrosa bersamaan dengan pemeriksaan skrining toksikologi, pemberian oksigen, dan pemeriksaan laboratorium rutin.

 

Berikut adalah ringkasan tahapan penanganan kasus overdosis:

  • Antidot spesifik, jika sebab diketahui
  • Skrining toksikologi
  • Karbon aktif
  • Pemeriksaan kimia, darah lengkap, urinalisis
  • Konsultasi Psikiatri jika overdosis disebabkan oleh percobaan bunuh diri
  • Oksigen diberikan pada kasus keracunan karbon monoksida atau pasien dyspnea (sesak nafas) 

  Cara pemberian infus nalokson sudah dibahas dalam artikel sebelumnya.

Sumber:

  1. Fischer C, 2018. USMLE Master the Boards Step 3 Fifth Edition, Kaplan Publishing Books, ISBN 978-1-5062-2-588-2.
  2. Zane RD, Kosowsky JM, 2019. Pocket Notebook: Pocket Emergency Medicine Fourth Edition, Wolters Kluwer. ISBN 9781975103651.

Comments

Popular posts from this blog

Bagaimana Cara Menghitung ATC dan DDD?

Bagaimana penyesuaian dosis obat antidiabetes oral dan insulin selama bulan Ramadhan?

Cara Pemberian Infus Nalokson pada Kasus Penyalahgunaan Opioid