Bagaimana penyesuaian dosis obat antidiabetes oral dan insulin selama bulan Ramadhan?
Sarana belajar seputar kesehatan secara umum, dengan fokus utama bidang farmasi klinis. Setiap informasi disajikan secara runut, disertai dengan tutorial, contoh kasus, link perhitungan cepat dan literatur untuk memudahkan sejawat menelusurinya ke sumber utama. Selamat membaca. Salam farmasi klinis!
Diuretik efektif baik sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan antihipertensi lain. Diuretik secara umum diindikasikan pada pasien hipertensi dan gagal jantung kongestif. Obat ini biasa dikombinasikan dengan ACEi atau CCB, sebagai pilihan ke 3 atau ke 4 (bila target terapi tidak tercapai dengan kombinasi ACEi dan CCB).
|
Diuretik |
Obat |
|
Diuretik Thiazide |
Chlorothiazide,
chlorthalidone, hydrichlorothiazide (HCT), indapamide (generik), metolazone |
|
Loop diuretic |
Bumetanide,
ethacrynic acid, furosemide, torsemide |
|
Potassium-sparring diuretic |
Amiloride, eplerenone,
spironolactone, triamterene |
|
Carbonid anhydrase inhibitors |
Acetazolamide |
|
Osmotic diuretics |
Manitol |
Tabel 1. Obat-obat Golongan Diuretik
Lokasi aksi obat diuretik dapat dilihat pada
Gambar 1.
Gambar 1.
Lokasi Aksi Diuretik di Ginjal (Lippincott, 2005)
Pemilihan obat
tergantung pada berbagai faktor seperti usia, etnis, dan komorbid. Obat-obat
golongan ini umumnya mempunyai efek samping meningkatkan diuresis (Tabel 2),
gangguan metabolik dan ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia, hipokalsemia,
hipomagnesia dan hipokloremia) (Gambar 2). Ketersediaannya yang luas, dengan biaya
yang murah serta profil keamanan yang baik membuat obat ini disukai dan
meningkatkan kepatuhan minum obat diantara pasien hipertensi.
Gambar 2. Efek Terapi Diuretik (Walen,
2018)
1. Diuretik tiazid
Farmakokinetik
diuretik tiazid:
|
Diuretik |
% Bioavailabilitas Oral |
T ½ Eliminasi (jam) |
|
Bendroflumethiazide
(2,5-5 mg/hari) |
Tidak diketahui |
2-5 |
|
Chlortalidone
(25-50 mg/hari) |
64 |
24-55 |
|
Hydrochlorthiazide
(12,5-25 mg/hari) |
65-75 |
2,5 |
|
Indapamide (2,5
mg/hari) |
92 |
15-25 |
Keterangan: Thiazide-type diuretic: HCT, bendroflumethiazide
Thiazide-like diuretic:
indapamide dan chlorthalidone
Selain
mudah diperoleh, murah, mudah digunakan, diuretik tiazid aman bagi lansia dan
dapat diberikan 1x sehari sehingga meningkatkan kepatuhan, baik bentuk tunggal
maupun kombinasi. Diuretik tiazid kontraindikasi dengan pasien yang
hipersensitif dengan tiazid atau golongan sulfonamid, menerima terapi litium
(gangguan bipolar), kehamilan dan menyusui, serta gangguan ginjal berat (lebih
efektif pada pasien dengan fungsi ginjal normal). Perbedaan efek kedua jenis thiazid disajikan pada tabel berikut:
|
Parameter |
Thiazide-like diuretics vs Thiazide-type diuretics |
|
Penurunan tekanan darah sistolik |
Thiazide-like diuretics lebih
efektif |
|
Penurunan tekanan darah diastolik |
Thiazide-like diuretics lebih
efektif |
|
Insiden hipokalemia |
Sama |
|
Insiden hiponatremia |
Sama |
|
Gula darah |
Sama |
|
Total kolesterol |
Sama |
Efek samping utama diuretik thiazid adalah gangguan
elektrolit, gula darah dan kolesterol total. Tidak terdapat peningkatan resiko
hiponatremia yang signifikan antara Chlorthalidone dan HCT dengan dosis dan frekuensi
pemberian yang sama. Obat antihipertensi tidak hanya mampu menurunkan tekanan
darah, namun keuntungan
lain terhadap sistem kardiovaskular, seperti anti-inflamasi,
anti-aterosklerosis, meningkatkan fungsi jantung dan proteksi organ target.
Dalam hal ini, diuretik
dalam dosis rendah unggul dibandingkan
obat antihipertensi lain.
Diantara diuretic tiazid, mana yang
paling efektif?
Thiazide-like
diuretic lebih unggul dibandingkan thiazide-type diuretic dalam menurunkan tekanan darah tanpa
meningkatkan insiden hipokalemia, hiponatremia, dan perubahan dalam gula darah
dan total kolesterol serum.
Thiazide-like
diuretic
· Chlorthalidone
unggul dalam hal morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular (CVD), namun mekanisme yang
mendasarinya masih belum jelas. T1/2 chlorthalidone >50 jam, 5x
lipat lebih besar dari T1/2 HCT. Dosis 50 mg HCT setara dengan 25-37
mg chlorthalidone. Dalam hal ketidakpatuhan minum obat (tidak teratur), efikasi
chlorthalidone yang panjang membuat obat ini lebih “toleran” dibandingkan HCT.
Sebagai anjuran, bila terapi diuretik tiazid diindikasikan pada pasien
hipertensi, sebaiknya pilih chlorthalidone. Selain itu, chlorthalidone lebih efektif dalam menurunkan
tekanan darah dan luaran biokimia dibandingkan HCT dan thiazide lainnya
Thiazidee-type diuretic
· Bendroflumethiazid
dan HCT (dalam dosis lazim rendah) relatif kurang ampuh dalam menurunkan
tekanan darah dan juga kurang efektif dalam mencegah kejadian morbiditas dan
mortalitas CVD. Sedangkan meningkatkan dosis HCT
hanya akan mengurangi tolerabilitas karena meningkatkan efek samping
Dibandingkan
dengan plasebo, penurunan tekanan darah terhadap masing-masing diuretik tiazid dirangkum pada tabel berikut:
|
Diuretik
tiazid |
Variasi dosis
(mg/hari) |
Penurunan
tekanan darah sistolik/diastolic (mmHg) |
|
Chlortalidone (11 percobaan) |
12,5 - 75 |
12/4 |
|
Hydrochlorthiazide (33 percobaan) |
6,25 12,5 25 50 |
4/2 6/3 8/3 11/5 |
|
Indapamide (10 percobaan) |
1 - 5 |
9/4 |
Secara
keseluruhan, dosis terendah diuretik tiazid terbukti dapat menurunkan tekanan
darah secara maksimal dan dosis lebih tinggi tidak menurunkannya lebih banyak. Secara
keseluruhan, tiazid menurunkan tekanan darah sistolik/diastolik rata-rata
sebesar 9/4 mmHg dibanding plasebo. Efek ini lebih besar pada sistolik
dibandingkan dengan diastolik, sehingga tiazid dapat menurunkan tekanan nadi
sebesar 4 – 6 mmHg. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan yang diberikan oleh
ACEi, ARB dan renin inhibitor (3 mmHg) dan beta-bloker non-selektif (2 mmHg). Kesimpulannya, urutan efektivitas dari tertinggi hingga terendah adalah:chlorthalidone >
HCT > Indapamide > Bendroflumethiazide.
2. Loop diuretic
(diuretic kuat)
Loop diuretic (furosemide, bumetanide, torasemide, azosemide)
kurang ampuh bila dibandingkan dengan thiazide. Loop diuretic biasa digunakan sebagai terapi gagal jantung dan edema melalui
mekanisme pemblokiran reabsorpsi Na dan Cl di ginjal. Berbeda dengan thiazide, loop diuretic meningkatkan kandungan
kalsium urin, sedangkan thiazide menurunkannya. Selain itu, loop diuretic lebih efektif pada pasien
dengan gagal ginjal lanjut dan oligouria (maks dosis 2 g/hari) meskipun kondisi
ini membutuhkan dosis yang lebih besar, sedangkan golongan tiazid lebih efektif
pada pasien dengan fungsi ginjal normal. Loop
diuretic tidak boleh diberikan pada wanita hamil (teratogenik), gagal hati,
hipokalemia, hipotensi dan hipersensitivitas.
Azosemide dan torasemide menyebabkan
penurunan signifikan dalam hal brain
natriuretic peptide (BNP). Torasemide menyebabkan penurunan signifikan collagen volume fraction (CVF) dan udem.
Tidak ada perbedaan signifikan dalam hal laju filtrasi glomerulus (GFR),
ekstraksi air dan ekskresi natrium. Furosemide
dapat menurunkan ambang batas nefrotoksik yang disebabkan oleh aminoglikosida
dan sefalosporin bila digunakan secara bersamaan. Dibandingkan furosemide,
torasemide memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi, ikatan protein yang
lebih tinggi, dan waktu paruh yang lebih lama. Sifat-sifat ini membuat
torasemide bekerja lebih cepat, lebih lama, dan lebih jarang menyebabkan micturition (berkemih) cepat
dibandingkan furosemid.
Dosis besar dapat menyebabkan
ketulian (dapat diatasi dengan memberikan dosis oral yang besar dalam 2 atau
lebih dosis terbagi) dan khusus bumetamide dapat menyebabkan mialgia. Sediaan
intravena biasa digunakan untuk gagal jantung dekompensasi dan krisis
hipertensi. Penggunaan diuretik harus disertai dengan monitoring ketat terhadap
keseimbangan elektrolit dan fungsi ginjal.
Diantara Loop diuretic, mana yang paling efektif?
3. Diuretik hemat kalium dan antagonis
mineralokortikosteroid (aldosteron)
|
Mineralocorticoid
receptor antagonist (MRA) a. Steroid Generasi
pertama: spironolakton dan
canrenone. Generasi kedua:
eplerenone, prorenone,
mespirenone, spirorenone, drospirenone. b. Non-steroid (generasi ketiga/keempat):
BAY-94-8862, BR-4628, CS-3150, LY-2623091, MT-3995, PF-3882845, SM-368229 |
|
Epithelial Na+ channel (ENaC)
blocker: amiloride dan triamterene |
Antagonis aldosterone
Spironolakton efektif
pada udem sirosis hati dan sindrom Conn,
sedangkan dosis rendahnya efektif pada gagal jantung berat. Obat ini aman
digunakan pada anak. Spironolakton (antagonis reseptor aldosterone), eplerenon (antagonis reseptor mineralokortikosteroid selektif,
dan amilorid (epithelial kanal Na blocker)
merupakan diuretik yang sangat lemah namun sangat bagus karena “hemat kalium”.
Profil farmakologi spironolakton, eplerenone, amiloride dan triamterene
Epithelial Na+ channel (ENaC)
blocker
Amilorid dan Triamterene merupakan diuretik yang lemah dan bisa menyebabkan retensi kalium, sehingga digunakan sebagai suplementasi kalium pada terapi tiazid atau diuretika kuat. Obat-obat ini mempunyai peran utama dalam terapi gagal jantung, hipertensi refrakter, dan hipertensi portal akibat sirosis hati.
Lalu, mana yang paling efektif?
3. Penghambat Carbonic
Anhydrase
4. Diuretika osmotik
Sumber:
Comments
Post a Comment